BUOL, Kasekabar.com – Gelombang nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita terus meluas di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri. Film karya sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono itu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memantik diskusi kritis lintas kalangan mengenai persoalan tanah adat, eksploitasi sumber daya alam, dan masa depan masyarakat lokal.
Di Kabupaten Buol, kegiatan nobar film dokumenter tersebut digelar pada Jumat, 8 Maret 2026. Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang dikabarkan mengalami pembubaran kegiatan serupa, pelaksanaan nobar di Buol berlangsung tertib, aman, dan diikuti berbagai elemen masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, petani, organisasi kepemudaan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga sejumlah warga yang tertarik mengikuti isu sosial dan lingkungan yang diangkat dalam film tersebut.
KONTEN IKLAN

IKLAN - SCROLL UNTUK MELANJUTKAN
Film dokumenter Pesta Babi mengangkat perjuangan masyarakat adat di wilayah selatan Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari proyek-proyek besar yang mengatasnamakan ketahanan pangan dan transisi energi. Dalam film itu juga digambarkan bagaimana tekanan terhadap ruang hidup masyarakat adat berlangsung di tengah bayang-bayang militerisasi dan eksploitasi sumber daya alam.
Usai pemutaran film, peserta nobar melanjutkan kegiatan dengan sesi diskusi terbuka. Dalam forum tersebut, sejumlah peserta menyampaikan pandangan terkait kondisi lingkungan dan potensi ancaman eksploitasi sumber daya alam di berbagai daerah, termasuk kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.
“Dari film dokumenter ini kita melihat bahwa hal yang sama bisa jadi akan kita alami di kemudian hari,” ujar salah satu peserta saat sesi diskusi berlangsung.
Diskusi berjalan interaktif dengan membahas isu-isu keadilan ekologis, perlindungan masyarakat adat, hingga dampak sosial dari proyek-proyek skala besar terhadap masyarakat lokal dan lingkungan hidup.
Selain itu, peserta juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal kebijakan pembangunan agar tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan hak-hak warga.
Setelah kegiatan diskusi selesai, para peserta melakukan foto bersama dan membuat video dukungan terhadap perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka dari eksploitasi yang dinilai dapat mengancam keberlangsungan lingkungan dan budaya lokal.
Kegiatan nobar tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi peserta untuk memahami isu-isu sosial dan lingkungan yang terjadi di Indonesia melalui pendekatan film dokumenter.
Sejumlah peserta berharap ruang-ruang diskusi publik seperti ini dapat terus dilakukan secara terbuka dan damai agar masyarakat semakin kritis dalam melihat persoalan lingkungan, hak masyarakat adat, serta arah pembangunan di Indonesia.






