PALU, Kasekabar.com – Aliansi mahasiswa Sulawesi Tengah menggelar aksi demonstrasi di depan kantor PT Citra Palu Minerals (CPM), Jalan Soekarno Hatta, Kota Palu, Kamis (26/2/2026). Aksi tersebut menyerukan tuntutan tegas agar perusahaan tambang emas itu diusir dari Sulawesi Tengah yang dikenal sebagai Bumi Tadulako.
Aksi ini melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa, antara lain DPD IMM Sulawesi Tengah, BEM Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Mapatek. Massa menilai aktivitas PT CPM diduga berpotensi menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Dalam orasinya, Ketua DPD IMM Sulawesi Tengah, Adityawarman, menyampaikan bahwa dugaan persoalan limbah perusahaan, khususnya pada kolam lindih, dapat menjadi ancaman ekologis jangka panjang bagi Kota Palu.
KONTEN IKLAN

IKLAN - SCROLL UNTUK MELANJUTKAN
“CPM adalah penjahat kemanusiaan karena tidak memperhatikan ekologi dan keselamatan masyarakat,” tegas Adityawarman di hadapan massa aksi.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Mursalim, juga menyerukan tuntutan serupa dengan suara lantang. Ia meminta agar PT CPM segera menghentikan aktivitasnya dan meninggalkan wilayah Sulawesi Tengah.
“Usir PT CPM dari Bumi Tadulako!” teriaknya, disambut sorakan massa.
Presiden Mahasiswa Unismuh Palu, Baso Agung, menyoroti rencana penambangan bawah tanah (underground mining) yang dinilai berpotensi menimbulkan dampak sistemik apabila tidak dikaji secara terbuka dan komprehensif.
“Rencana underground ini bisa menjadi bom waktu pembunuh bagi kurang lebih dua juta masyarakat Kota Palu jika tidak dikaji secara serius dan transparan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BEM FKM, Moh. Akil, menilai orientasi perusahaan lebih mengedepankan keuntungan ekonomi dibandingkan keselamatan lingkungan dan masyarakat sekitar.
“CPM hanya mementingkan omzet daripada keselamatan dan kemanusiaan,” katanya.
Ketua BEM FKIP, Abdu, dalam orasinya menyebut istilah “serakahnomics” untuk menggambarkan model bisnis yang dinilai mengabaikan dampak sosial dan lingkungan.
“Ini adalah praktik serakahnomics, hanya mementingkan korporasi tanpa memikirkan dampak sosial dan lingkungan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Mapatek, Saipul Akbar, yang mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas perusahaan tambang tersebut.
“CPM adalah penjahat lingkungan yang harus segera dievaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Aliansi mahasiswa mendesak pemerintah daerah serta aparat penegak hukum untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pengelolaan limbah, khususnya kolam lindih yang dinilai berisiko merusak ekologi. Mereka juga menuntut transparansi penuh terkait rencana tambang bawah tanah yang dikhawatirkan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat Kota Palu.
Sebagai penutup, Korlap aksi menyampaikan peringatan bahwa gelombang demonstrasi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar akan kembali digelar jika tuntutan mereka tidak segera direspons oleh pihak terkait.







