Pernikahan Dini Marak di Buol: Ketika Anak Perempuan Jadi Korban Tekanan Sosial dan Ekonomi

- Reporter

Monday, 14 July 2025 - 19:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasekabar.com, Opini – Ditulis oleh Febrianti Ahmad, salah satu peserta yang berasal dari HMI Cabang Buol dan sedang mengikuti LKK (Latihan Khusus kohati) Cabang Palu, Selasa 15 Juli 2025,

Buol kembali mencatat angka tertinggi dispensasi pernikahan anak di Sulawesi Tengah. Sebanyak 71 kasus tercatat sepanjang 2023, menempatkan daerah ini sebagai wilayah dengan jumlah pernikahan dini terbanyak di provinsi tersebut.

Pernikahan dini tak hanya mencerminkan tekanan sosial, tapi juga bentuk diskriminasi terhadap anak perempuan. Rendahnya nilai pendidikan perempuan dalam keluarga turut memperparah situasi ini.

KONTEN IKLAN

ads

IKLAN - SCROLL UNTUK MELANJUTKAN

Tekanan Sosial dan Pandangan Keliru tentang Perempuan

Di banyak desa di Kabupaten Buol, anak perempuan kerap dipandang sebagai beban ekonomi. Pendidikan dasar dianggap cukup, bahkan sering kali dianggap percuma jika anak perempuan pada akhirnya “berakhir” di dapur.

Seorang warga mengatakan, “Pendidikan dianggap tak penting untuk perempuan karena nanti juga menikah dan ikut suami.”

Ketimpangan Gender Jadi Akar Masalah

Diskriminasi struktural dan kultural terhadap anak perempuan menjadi penyebab utama maraknya pernikahan dini. Tekanan sosial dan kondisi ekonomi keluarga menjadikan pernikahan sebagai solusi cepat mengurangi beban.

Deklarasi Pencegahan Pernikahan Anak yang digelar Oktober 2023 di Kabupaten Buol dan dipimpin langsung oleh Penjabat Bupati menjadi upaya awal yang perlu diiringi tindakan konkret di lapangan.

Anak Perempuan Kehilangan Hak Dasarnya

Pernikahan dini memutus peluang pendidikan dan karier anak perempuan. Ini bukan sekadar fenomena sosial, tetapi bentuk kekerasan sistemik terhadap hak anak dan perempuan.

“Anak perempuan kehilangan masa depannya hanya karena tekanan sosial,” ujar seorang aktivis perempuan di Buol (14/7).

Perlu Intervensi Serius dan Berkelanjutan

Solusi yang ditawarkan tidak cukup berhenti pada deklarasi. Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu menggencarkan sosialisasi tentang risiko pernikahan dini, baik dari aspek hukum, kesehatan, maupun psikologis.

Sasaran sosialisasi harus mencakup siswa, guru, orang tua, dan tokoh masyarakat.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Pemkab Buol Percepat Transformasi Digital, Dorong BTS dan Layanan Darurat 112
Warga Desa Bodi Serukan Penertiban Tambang Ilegal yang Resahkan Masyarakat
Aktivis Buol Tegas Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden demi Supremasi Sipil
Puluhan Siswa Penerima MBG Keracunan di Bunobogu, Bupati Buol Turun Tangan
Puluhan Siswa SD di Bunobogu Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Humas PT Sinar Vijorey Desak Pemda Buol Tertibkan Galian C Ilegal
Dari Kebun ke Botol,  VCO Tolitoli Bangkit, UMKM Lokal Tancap Gas Hilirisasi Kelapa
PERAN STRATEGIS KESENIAN SEBAGAI UPAYA MENCEGAH PELANGGARAN PEMILU

Berita Terkait

Thursday, 5 February 2026 - 08:03 WITA

Pemkab Buol Percepat Transformasi Digital, Dorong BTS dan Layanan Darurat 112

Sunday, 1 February 2026 - 13:56 WITA

Warga Desa Bodi Serukan Penertiban Tambang Ilegal yang Resahkan Masyarakat

Thursday, 29 January 2026 - 04:32 WITA

Aktivis Buol Tegas Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden demi Supremasi Sipil

Wednesday, 28 January 2026 - 16:05 WITA

Puluhan Siswa Penerima MBG Keracunan di Bunobogu, Bupati Buol Turun Tangan

Wednesday, 28 January 2026 - 15:58 WITA

Puluhan Siswa SD di Bunobogu Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Berita Terbaru

Kotamobagu

SABARMAS, ini Pesan Kapolres Irwanto?

Friday, 6 Feb 2026 - 10:37 WITA